Khairul Umam membimbing mahasiswa UNM menyusun Business Model Canvas dalam Preneur Talk 2026

Mahasiswa Penerima Beasiswa Bidik Misi UNM buat Business Model Canvas Bersama Khairul Umam

Makassar, 30 Agustus 2026 — Sebuah ide bisnis membutuhkan lebih dari sekadar kreativitas. Agar dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan, ide tersebut perlu diterjemahkan menjadi model bisnis yang jelas.

Hal tersebut menjadi fokus sesi Preneur Talk Ikatan Keluarga Mahasiswa Bidikmisi dan KIP Kuliah Universitas Negeri Makassar (UNM) Tahun 2026 yang menghadirkan Khairul Umam, S.T., M.T. sebagai pemateri.

Kegiatan dilaksanakan pada Minggu, 30 Agustus 2026, dengan mengangkat topik “Transforming Ideas into Sustainable Business Models.”

Kegiatan ini diikuti lebih dari 100 peserta yang merupakan mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi dan KIP Kuliah Universitas Negeri Makassar.

Dalam sesi tersebut, Khairul Umam membawakan materi mengenai Business Model Canvas (BMC). Namun, sesi tidak berhenti pada penjelasan konsep.

Peserta secara langsung diajak untuk menyusun dan mengeksplorasi model bisnis mereka melalui setiap bagian dalam BMC.

Menavigasi Ide melalui Business Model Canvas

Business Model Canvas menjadi salah satu alat yang dapat membantu entrepreneur melihat bisnis secara lebih utuh.

Melalui sembilan blok utama, sebuah ide dapat dipetakan menjadi model bisnis yang lebih terstruktur.

Dalam workshop tersebut, Khairul Umam memandu peserta untuk memahami setiap bagian BMC secara bertahap.

Setiap kolom tidak hanya dijelaskan secara teoritis. Peserta juga diberikan contoh agar dapat memahami bagaimana konsep tersebut diterapkan dalam konteks bisnis.

Pendekatan ini membuat peserta tidak hanya mengetahui apa itu BMC. Mereka juga belajar bagaimana menggunakan BMC untuk menguji dan mempertajam ide bisnis.

Setiap Kolom BMC Perlu Dipahami Secara Mendalam

Dalam proses penyusunan BMC, peserta diajak untuk menyelami setiap komponen secara detail.

Mulai dari siapa pelanggan yang ingin dilayani. Kemudian, apa nilai yang ditawarkan kepada pelanggan.

Peserta juga diarahkan untuk memikirkan bagaimana produk atau layanan tersebut dapat menjangkau pelanggan. Selain itu, hubungan dengan pelanggan juga perlu dirancang.

Di sisi lain, entrepreneur perlu memahami aktivitas utama yang harus dilakukan. Sumber daya utama juga perlu dipetakan.

Kemudian, partner yang dibutuhkan perlu diidentifikasi.

Seluruh komponen tersebut kemudian dihubungkan dengan struktur biaya dan sumber pendapatan.

Dengan demikian, peserta dapat melihat bahwa sebuah bisnis merupakan sistem yang saling berkaitan.

Perubahan pada satu bagian dapat memengaruhi bagian lainnya.

Dari Ide Menjadi Model Bisnis

Salah satu tantangan mahasiswa ketika mulai berwirausaha adalah memiliki banyak ide, tetapi belum mengetahui bagaimana mengembangkannya menjadi bisnis.

Melalui BMC, proses tersebut dapat dibuat lebih sederhana.

Ide yang sebelumnya masih abstrak mulai diterjemahkan menjadi pelanggan, nilai produk, aktivitas, sumber daya, mitra, biaya, hingga sumber pendapatan.

Proses ini membantu entrepreneur melihat apakah setiap bagian bisnis sudah saling mendukung.

Karena itu, BMC dapat menjadi alat awal untuk melakukan validasi terhadap sebuah gagasan.

Bukan berarti BMC langsung menjamin sebuah bisnis akan berhasil. Namun, alat ini dapat membantu entrepreneur mengidentifikasi bagian yang masih perlu diperbaiki sebelum bisnis dikembangkan lebih jauh.

Peserta Mempresentasikan Model Bisnis

Pada akhir workshop, dua kelompok peserta mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan Business Model Canvas yang telah mereka susun.

Presentasi tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.

Peserta tidak hanya membuat BMC. Mereka juga harus mampu menjelaskan logika di balik setiap komponen model bisnis yang mereka susun.

Khairul Umam kemudian memberikan feedback terhadap masing-masing BMC.

Masukan diberikan untuk membantu peserta melihat bagian yang masih dapat diperkuat. Dengan demikian, peserta mendapatkan gambaran yang lebih konkret mengenai bagaimana sebuah model bisnis dapat dikembangkan.

Proses ini juga memberikan pengalaman bahwa membangun bisnis membutuhkan proses iterasi.

Sebuah model bisnis tidak harus langsung sempurna. Model tersebut dapat terus diperbaiki berdasarkan masukan dan pembelajaran yang diperoleh.

Mendorong Entrepreneurship di Kalangan Mahasiswa

Kegiatan Preneur Talk menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan perspektif praktis mengenai dunia kewirausahaan.

Lebih dari 100 mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi dan KIP Kuliah UNM mengikuti kegiatan tersebut.

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kewirausahaan menjadi penting. Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan keberanian menciptakan solusi dan membangun usaha.

Mahasiswa memiliki potensi untuk mengembangkan berbagai ide. Mulai dari teknologi, kuliner, jasa, pendidikan, ekonomi kreatif, hingga berbagai persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar.

Namun, ide tersebut perlu diarahkan agar memiliki nilai bagi pengguna.

Di sinilah pemahaman mengenai model bisnis menjadi penting.

Dari Business Model Canvas Menuju Bisnis Berkelanjutan

Tema “Transforming Ideas into Sustainable Business Models” menekankan bahwa tujuan akhir dari proses ini bukan sekadar menghasilkan ide bisnis.

Ide tersebut perlu dikembangkan menjadi model bisnis yang mampu menciptakan nilai dan bertahan dalam jangka panjang.

Karena itu, entrepreneur perlu memahami pelanggan. Mereka juga perlu memahami sumber daya yang dimiliki, struktur biaya, serta bagaimana bisnis menghasilkan pendapatan.

Selain itu, kemampuan untuk terus melakukan evaluasi juga menjadi bagian penting dalam perjalanan bisnis.

Business Model Canvas dapat menjadi salah satu alat untuk membantu proses tersebut.

Melalui BMC, mahasiswa dapat mulai membangun cara berpikir entrepreneur secara lebih sistematis.

Membangun Bisnis Dimulai dari Memahami Modelnya

Bagi Khairul Umam, proses belajar kewirausahaan sebaiknya memberikan ruang kepada peserta untuk mencoba secara langsung.

Tidak cukup hanya mengetahui definisi. Peserta perlu menggunakan tools, menyusun model, mempresentasikan gagasan, kemudian mendapatkan feedback.

Pendekatan tersebut membuat proses pembelajaran menjadi lebih aplikatif.

Mahasiswa dapat langsung melihat hubungan antara ide yang mereka miliki dengan kebutuhan pelanggan, strategi bisnis, sumber daya, biaya, dan pendapatan.

Pada akhirnya, Business Model Canvas bukan sekadar sebuah template bisnis.

BMC dapat menjadi cara untuk melihat bagaimana sebuah bisnis bekerja secara keseluruhan.

Melalui kegiatan Preneur Talk 2026, mahasiswa penerima Bidikmisi dan KIP Kuliah UNM mendapatkan kesempatan untuk membawa ide mereka satu langkah lebih jauh.

Dari sekadar memiliki ide, menjadi memahami siapa yang ingin dilayani, nilai apa yang ingin diberikan, bagaimana bisnis dijalankan, dan bagaimana bisnis tersebut dapat menciptakan nilai secara berkelanjutan.

Proses sederhana tersebut dapat menjadi langkah awal bagi lahirnya lebih banyak entrepreneur muda dari lingkungan Universitas Negeri Makassar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shopping Cart

Hey Yo! Don't know why you here, but nice to see ya!

X
Scroll to Top