Makassar, 8 September 2026 — Perkembangan teknologi digital membuat peluang berwirausaha semakin terbuka. Media sosial, marketplace, pembayaran digital, hingga aplikasi untuk membuat konten kini dapat dimanfaatkan untuk memulai dan mengembangkan usaha.
Namun, kemampuan menggunakan teknologi saja belum cukup.
Pelaku usaha juga membutuhkan mindset kewirausahaan. Mereka perlu mampu melihat peluang, memahami kebutuhan pasar, berani mencoba, dan terus belajar.
Perspektif tersebut menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Khairul Umam, S.T., M.T., dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) Program SIDP Fellowship British Council yang diselenggarakan oleh Ruang Kolaborasi Perempuan (RKP).
Kegiatan berlangsung pada Selasa, 8 September 2026, di Makassar Government Center.
Dalam kegiatan tersebut, Khairul menjadi narasumber untuk materi Kewirausahaan Digital dan E-Commerce. Sesi ini ditujukan untuk membekali trainer dan co-trainer agar mampu memfasilitasi peserta program secara praktis, inklusif, dan mudah diterapkan.
Kewirausahaan Dimulai dari Mindset
Dalam sesi pembelajaran, Khairul menekankan bahwa kewirausahaan seharusnya dimulai dari pengembangan mindset wirausaha.
Menurutnya, kewirausahaan bukan semata-mata sebuah pekerjaan atau status seseorang.
Kewirausahaan merupakan kompetensi yang dapat ditumbuhkan sejak dini.
Cara seseorang melihat masalah, menemukan peluang, mengambil keputusan, mencoba sesuatu yang baru, dan belajar dari kegagalan merupakan bagian dari kompetensi tersebut.
Karena itu, pembelajaran kewirausahaan tidak seharusnya hanya berorientasi pada bagaimana peserta membuat sebuah produk.
Peserta juga perlu dibantu untuk membangun cara berpikir yang mendukung proses tersebut.
Trainer Perlu Melihat Peserta sebagai Individu yang Bertumbuh
Pesan tersebut menjadi semakin penting karena kegiatan yang diberikan Khairul merupakan Training of Trainers.
Para peserta ToT nantinya tidak hanya bertugas menyampaikan materi. Mereka juga akan mendampingi peserta Program SIDP dalam proses belajar.
Khairul menekankan bahwa seorang trainer perlu melihat peserta sebagai seseorang yang sedang bertumbuh.
Setiap peserta memiliki latar belakang, pengalaman, kemampuan, dan kondisi yang berbeda.
Karena itu, proses pendampingan perlu dibuat senyaman mungkin.
Trainer perlu menciptakan ruang belajar yang aman dan partisipatif. Peserta perlu merasa memiliki kesempatan untuk bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, dan belajar kembali.
Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika peserta berasal dari kelompok yang memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi, perangkat, modal, maupun pengalaman berwirausaha.
Kewirausahaan Digital Bukan Sekadar Bisa Menggunakan Teknologi
Dalam materi Kewirausahaan Digital dan E-Commerce, Khairul mengajak peserta melihat hubungan erat antara kompetensi digital dan mindset entrepreneurship.
Teknologi memang memberikan banyak kemudahan.
Namun, teknologi hanyalah alat.
Seorang entrepreneur tetap perlu memahami masalah yang ingin diselesaikan. Ia juga perlu mengetahui siapa calon konsumennya dan apa yang sebenarnya dibutuhkan pasar.
Karena itu, kemampuan digital perlu berjalan bersama kemampuan melihat peluang.
Peserta kemudian diajak memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mendukung proses bisnis.
Mulai dari pengembangan ide dan model usaha, validasi produk, penyusunan informasi produk, hingga pemasaran digital.
Belajar Tidak Lagi Mengenal Batasan
Salah satu hal yang ditekankan Khairul adalah perubahan cara belajar di era digital.
Kompetensi digital memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk terus belajar.
Sumber pengetahuan kini dapat diakses dari berbagai tempat. Tutorial, referensi bisnis, inspirasi produk, strategi pemasaran, hingga berbagai tools digital tersedia dengan lebih mudah.
Karena itu, keterbatasan akses terhadap pendidikan formal tidak lagi menjadi satu-satunya penentu kemampuan seseorang untuk berkembang.
Yang menjadi penting adalah kemauan untuk belajar dan kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
Dalam konteks entrepreneurship, kemampuan belajar tersebut menjadi sangat penting.
Bisnis terus berubah. Konsumen berubah. Teknologi berkembang. Cara pemasaran juga terus mengalami perubahan.
Maka, entrepreneur perlu menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Praktik Digital untuk Mendukung Usaha
Materi yang diberikan Khairul juga diarahkan pada keterampilan yang dekat dengan kebutuhan usaha sehari-hari.
Peserta diperkenalkan dengan proses mengembangkan ide dan model usaha. Selanjutnya, ide tersebut perlu divalidasi berdasarkan kebutuhan pasar.
Peserta juga membahas bagaimana menyusun informasi produk yang mampu menarik perhatian calon pelanggan.
Untuk mendukung kebutuhan konten, trainer dibekali pemahaman mengenai penggunaan aplikasi seperti Canva dan CapCut untuk membuat materi promosi.
Selain pemasaran, aspek operasional juga menjadi perhatian.
Peserta diperkenalkan dengan pencatatan stok dan penjualan. Kemudian, dibahas pula bagaimana memberikan layanan kepada pelanggan serta menangani keluhan.
Pada bagian akhir, strategi harga, promosi, dan penyusunan paket produk juga menjadi bagian dari pembelajaran.
Materi tersebut dirancang agar dapat diterjemahkan menjadi pembelajaran yang sederhana dan aplikatif bagi peserta program.
Dari Pelatihan Menuju Kemampuan yang Bisa Dipraktikkan
Program SIDP Fellowship British Council melalui Ruang Kolaborasi Perempuan dirancang untuk memperkuat kapasitas peserta dalam mengembangkan kegiatan maupun usaha secara lebih terarah.
Karena itu, ToT menjadi tahap penting sebelum trainer turun mendampingi peserta.
Trainer tidak hanya perlu menguasai materi.
Mereka juga perlu memahami bagaimana cara menyampaikannya kepada peserta dengan latar belakang yang beragam.
Pendekatan pembelajaran orang dewasa menjadi relevan dalam proses tersebut.
Materi perlu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Contoh perlu mudah dipahami. Praktik perlu dapat dilakukan menggunakan perangkat yang tersedia.
Dengan demikian, hasil pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman konsep.
Peserta nantinya diharapkan mampu menghasilkan berbagai alat usaha sederhana. Misalnya akun jualan, informasi produk, foto produk, konten promosi, catatan transaksi, hingga rencana pengembangan usaha.
Membangun Ekosistem Pembelajaran yang Inklusif
Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa pengembangan kewirausahaan tidak dapat dipisahkan dari isu inklusivitas.
Perempuan dan pemuda dari kelompok prasejahtera memiliki potensi untuk mengembangkan usaha. Namun, mereka dapat menghadapi berbagai hambatan.
Mulai dari keterbatasan perangkat dan modal hingga kurangnya kepercayaan diri dan literasi digital.
Karena itu, pendekatan pendampingan perlu disesuaikan dengan kondisi peserta.
Trainer perlu hadir bukan hanya sebagai orang yang memberikan pengetahuan.
Lebih dari itu, trainer menjadi fasilitator yang membantu peserta menemukan kemampuan dan peluang yang ada pada dirinya.
Menghubungkan Digital Skill dengan Entrepreneurial Mindset
Keterampilan digital dan kewirausahaan pada akhirnya saling melengkapi.
Kemampuan menggunakan marketplace akan lebih bermanfaat jika entrepreneur memahami siapa konsumennya.
Kemampuan membuat konten akan lebih efektif jika konten tersebut memiliki tujuan bisnis.
Kemampuan mencatat transaksi akan lebih bermakna jika data tersebut digunakan untuk mengambil keputusan.
Begitu pula dengan teknologi lainnya.
Karena itu, pengembangan kewirausahaan digital perlu dimulai dari cara berpikir, kemudian dilanjutkan dengan keterampilan.
Teknologi membantu mempercepat proses. Namun, mindset entrepreneur membantu menentukan arah.
Menyiapkan Trainer untuk Mendampingi Peserta Bertumbuh
Melalui Training of Trainers ini, RKP mempersiapkan trainer dan co-trainer agar mampu membawa pembelajaran kewirausahaan digital kepada peserta Program SIDP dengan pendekatan yang lebih praktis.
Bagi Khairul Umam, keberhasilan proses tersebut bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang dapat disampaikan.
Yang lebih penting adalah apakah peserta mampu menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan dan usahanya.
Karena itu, trainer perlu membangun suasana belajar yang nyaman. Peserta perlu diberikan ruang untuk mencoba.
Dari mencoba, mereka belajar.
Dari belajar, mereka berkembang.
Dan dari proses tersebut, diharapkan muncul keberanian untuk mengambil peluang dan membangun usaha.
Pada akhirnya, kewirausahaan digital bukan hanya tentang menjual melalui internet.
Kewirausahaan digital adalah kemampuan untuk melihat peluang, memahami kebutuhan, memanfaatkan teknologi, terus belajar, dan menciptakan nilai melalui usaha.
Melalui penguatan kapasitas trainer dalam Program SIDP Fellowship British Council, proses tersebut diharapkan dapat menjangkau lebih banyak perempuan dan pemuda, khususnya mereka yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap peluang pengembangan diri dan usaha.






