Khairul Umam memberikan Business IncubaTalks pada Startup Academy Cohort 2026 di UNHAS

Startup Academy UNHAS Cohort 2026 Resmi Dimulai

Makassar, 9 September 2026 — Perjalanan baru bagi para founder dan pelaku usaha pemula resmi dimulai melalui Startup Academy Cohort 2026.

Program ini hadir sebagai ruang belajar, validasi, kolaborasi, dan pertumbuhan bagi startup serta tenant UMKM.

Kick-Off Startup Academy Cohort 2026 berlangsung pada Rabu, 9 September 2026, di Lecture Theatre, Gedung IPTEKS Universitas Hasanuddin (UNHAS).

Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan Business IncubaTalks dan Bootcamp Piloting Hilirisasi Komoditas Unggulan Kementerian UMKM RI.

Sebanyak 14 startup dan 15 tenant UMKM binaan mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.

Hadir dalam kegiatan ini Dr. Muhammad Rusman, Direktur Science Techno Park (STP) UNHAS, serta Sidik Permana, CEO Digides.id.

Sementara itu, Khairul Umam, S.T., M.T., hadir selaku Manager Inkubator Bisnis Kota Makassar. Khairul mewakili Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar yang berhalangan hadir karena agenda lainnya.

Pemerintah sebagai Regulator, Fasilitator, dan Ecosystem Builder

Dalam sesi Business IncubaTalks, salah satu pesan utama yang dibawa adalah pentingnya melihat peran pemerintah dalam ekosistem kewirausahaan secara lebih luas.

Pemerintah tidak hanya berperan sebagai pemberi bantuan.

Pemerintah juga memiliki peran sebagai regulator, fasilitator, dan ecosystem builder.

Artinya, pemerintah berupaya menciptakan kondisi yang memungkinkan UMKM dan startup tumbuh lebih mudah.

Ekosistem yang baik perlu membuka ruang bagi pelaku usaha untuk mendapatkan akses pasar, legalitas, standardisasi, pembiayaan, digitalisasi, serta kemitraan.

Namun, dukungan tersebut tidak akan optimal jika pelaku usaha sendiri belum memiliki kesiapan untuk berkembang.

Karena itu, perilaku entrepreneur menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Founder Perlu Segera Memikirkan Initial Business Model

Dalam kesempatan tersebut, Khairul Umam banyak menekankan pentingnya founder untuk segera memikirkan initial business model.

Menurutnya, pengusaha pemula tidak perlu menunggu model bisnis yang sempurna untuk mulai bergerak.

Justru, model bisnis awal perlu segera diuji melalui pasar.

Founder perlu mencari siapa calon pengguna produknya. Setelah itu, mereka perlu berusaha mendapatkan early adopters dan first client.

Proses tersebut memberikan pembelajaran yang jauh lebih konkret.

Ketika produk bertemu dengan pengguna, founder akan mendapatkan informasi mengenai apa yang benar-benar dibutuhkan pasar.

Dari sana, produk dan model bisnis dapat terus diperbaiki.

Dengan demikian, proses membangun startup tidak hanya berangkat dari asumsi.

Ada proses validasi yang dilakukan secara nyata.

Early Adopters Menjadi Sumber Pembelajaran

Bagi startup tahap awal, mendapatkan pengguna pertama merupakan langkah penting.

Early adopters dapat memberikan feedback yang sangat berharga.

Mereka membantu founder memahami apakah solusi yang ditawarkan benar-benar relevan.

Jika respons pasar belum sesuai harapan, founder dapat melakukan penyesuaian.

Karena itu, Khairul mendorong peserta untuk tidak terlalu lama berada pada tahap perencanaan.

Sebuah ide perlu segera dibawa ke pasar untuk mendapatkan pembelajaran.

Initial business model → early adopters → feedback → improvement.

Siklus tersebut dapat membantu founder bergerak lebih cepat dalam menemukan model bisnis yang sesuai.

Jangan Hanya Mencari Modal

Salah satu tantangan yang sering muncul dalam pengembangan usaha adalah cara pandang bahwa bisnis membutuhkan modal terlebih dahulu.

Padahal, kebutuhan entrepreneur tidak selalu berupa modal.

Pelaku usaha juga membutuhkan pengetahuan, akses pasar, mentor, jaringan, legalitas, standardisasi, teknologi, dan mitra yang tepat.

Karena itu, founder dan tenant perlu mampu mengidentifikasi kebutuhan bisnis mereka secara spesifik.

Apa masalah yang sedang dihadapi?

Akses apa yang dibutuhkan?

Siapa yang dapat membantu?

Dan bagaimana dukungan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan performa bisnis?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar pelaku usaha tidak sekadar mengikuti program.

Mereka perlu memahami bagaimana setiap program dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan bisnisnya.

Memanfaatkan Framework Inkubator

Khairul juga menekankan pentingnya keikutsertaan peserta dalam program pengembangan yang disediakan oleh inkubator.

Menurutnya, program inkubator memiliki framework pengembangan usaha yang jelas.

Framework tersebut dapat membantu pengusaha pemula memahami tahapan pengembangan bisnis secara lebih sistematis.

Peserta tidak hanya mendapatkan materi. Mereka juga memiliki ruang untuk menguji gagasan, mendapatkan feedback, memperbaiki model bisnis, dan mengembangkan usahanya.

Karena itu, mengikuti program inkubasi sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai kesempatan mengikuti pelatihan.

Lebih dari itu, program inkubator dapat menjadi bagian dari perjalanan membangun bisnis.

Apa Arti “Naik Kelas” bagi UMKM dan Startup?

Dalam konteks pengembangan usaha, istilah “naik kelas” tidak cukup diukur dari seberapa banyak program yang diikuti.

UMKM atau startup mulai menunjukkan pertumbuhan ketika terdapat perubahan nyata dalam bisnisnya.

Misalnya, semakin jelas target pasarnya. Produk semakin sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Sudah memiliki pelanggan pertama. Penjualan mulai lebih konsisten.

Selain itu, pengelolaan keuangan mulai tertata. Legalitas dan standardisasi mulai dipenuhi. Digitalisasi juga mulai digunakan untuk mendukung operasional dan pemasaran.

Indikator-indikator tersebut menunjukkan bahwa bisnis mulai memiliki fondasi yang lebih kuat.

Dengan kata lain, naik kelas adalah proses membangun bisnis agar semakin ready, measurable, dan sustainable.

Kolaborasi Menjadi Kunci Ekosistem

Startup Academy Cohort 2026 juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem kewirausahaan.

Kehadiran perguruan tinggi, pemerintah, inkubator, pelaku industri, startup, dan UMKM menciptakan ruang untuk saling bertukar pengetahuan dan sumber daya.

Dalam ekosistem seperti ini, setiap pihak memiliki peran.

Pemerintah dapat menjadi regulator dan fasilitator. Perguruan tinggi dapat memperkuat riset dan inovasi. Inkubator dapat mendampingi proses pengembangan bisnis.

Sementara itu, industri dapat membuka akses terhadap kebutuhan pasar dan peluang kemitraan.

Startup dan UMKM sendiri menjadi aktor utama yang menerjemahkan berbagai dukungan tersebut menjadi bisnis yang nyata.

Membangun Startup melalui Proses Validasi

Startup Academy Cohort 2026 menjadi momentum bagi para founder dan tenant UMKM untuk memulai proses tersebut.

Sebanyak 14 startup dan 15 tenant UMKM mendapatkan ruang untuk belajar dan berkembang dalam sebuah ekosistem yang mendorong inovasi serta kolaborasi.

Namun, pada akhirnya keberhasilan program akan sangat ditentukan oleh apa yang dilakukan peserta setelah kegiatan.

Ide perlu diuji.

Model bisnis perlu divalidasi.

Pelanggan pertama perlu dicari.

Feedback perlu didengarkan.

Kemudian, bisnis perlu terus diperbaiki.

Inilah proses yang membuat seorang founder tidak hanya menjadi pemilik ide, tetapi berkembang menjadi entrepreneur yang mampu membangun bisnis.

Dari Program Menuju Impact

Startup Academy Cohort 2026 membawa semangat innovation, ecosystem, and collaboration.

Semangat tersebut menjadi relevan karena tantangan startup dan UMKM tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.

Diperlukan ekosistem yang saling terhubung.

Namun, ekosistem yang kuat juga membutuhkan entrepreneur yang aktif memanfaatkannya.

Karena itu, pesan Khairul menjadi penting: jangan menunggu semuanya sempurna untuk mulai membangun bisnis.

Bangun initial business model. Temukan early adopters. Kejar first client. Dengarkan feedback. Kemudian terus lakukan perbaikan.

Dengan memanfaatkan framework inkubator dan dukungan ekosistem secara tepat, para founder dan tenant UMKM diharapkan dapat bergerak lebih cepat dari ide menuju validasi, dari validasi menuju bisnis, dan dari bisnis menuju impact.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shopping Cart

Hey Yo! Don't know why you here, but nice to see ya!

X
Scroll to Top