Perkembangan dunia usaha membuat pemasaran tidak lagi sekadar berbicara tentang bagaimana menjual sebuah produk. Cara bisnis memahami pelanggan, membangun nilai, menciptakan pengalaman, hingga memanfaatkan teknologi terus mengalami perubahan.
Perspektif tersebut menjadi bagian dari sesi Praktisi Mengajar Fakultas Vokasi Universitas Hasanuddin (Unhas) yang menghadirkan Khairul Umam, S.T., M.T. sebagai praktisi pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Khairul mengisi pembelajaran bagi mahasiswa Program Studi Teknologi Produksi Ternak dengan membahas pengembangan usaha melalui perspektif marketing, branding, dan kewirausahaan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama IMA Chapter Makassar dengan Fakultas Vokasi Unhas, yang menghadirkan para praktisi marketing dari industri untuk berbagi pengalaman dan perspektif dunia profesional kepada mahasiswa.
Memahami Evolusi Marketing
Dalam sesi tersebut, Khairul mengajak mahasiswa memahami bagaimana konsep marketing terus berkembang mengikuti perubahan perilaku konsumen dan teknologi.
Pembahasan dimulai dari Marketing 1.0 yang berorientasi pada produk atau product driven, kemudian berkembang menuju Marketing 2.0 yang lebih customer centric.
Selanjutnya, mahasiswa diperkenalkan pada Marketing 3.0 yang menekankan value driven, kemudian Marketing 4.0 dengan pendekatan omnichannel, hingga Marketing 5.0 yang mulai memanfaatkan otomatisasi dan Artificial Intelligence (AI).
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa marketing tidak berdiri sendiri. Perubahan teknologi dan perilaku konsumen turut mengubah bagaimana bisnis menciptakan, menyampaikan, dan mengomunikasikan nilai kepada pelanggan.
Bagi mahasiswa Teknologi Produksi Ternak, perspektif ini dapat diterapkan ketika mengembangkan produk maupun layanan di sektor peternakan. Teknologi produksi yang baik perlu diterjemahkan menjadi nilai yang dapat dipahami dan dirasakan oleh pasar.
Produk Bagus Perlu Memiliki Persepsi yang Kuat
Pembahasan kemudian masuk pada aspek branding.
Khairul memberikan contoh bagaimana Supreme membangun persepsi terhadap produknya. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah menghadirkan produk dalam jumlah terbatas atau limited edition, sehingga menciptakan persepsi tertentu mengenai eksklusivitas dan nilai produk.
Contoh tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa branding bukan sekadar persoalan logo, warna, atau desain visual.
Branding juga berkaitan dengan bagaimana sebuah produk dipersepsikan oleh masyarakat dan alasan mengapa konsumen merasa produk tersebut memiliki nilai untuk dibeli.
Dengan demikian, pelaku usaha perlu memikirkan bukan hanya “Apa produk saya?”, tetapi juga “Persepsi apa yang ingin dibangun terhadap produk tersebut?”
Mengembangkan Produk dengan Strategi FAB
Untuk membantu mahasiswa memahami bagaimana sebuah fitur dapat diterjemahkan menjadi nilai yang lebih relevan bagi pelanggan, Khairul memperkenalkan pendekatan FAB: Feature, Advantage, Benefit.
Feature merupakan karakteristik atau fitur yang dimiliki sebuah produk.
Fitur tersebut kemudian diterjemahkan menjadi Advantage, yaitu keunggulan atau fungsi yang dihasilkan dari fitur tersebut. Selanjutnya, keunggulan tersebut diterjemahkan menjadi Benefit, yaitu manfaat yang lebih spesifik bagi pelanggan atau segmen pasar tertentu.
Khairul memberikan contoh sederhana melalui fitur 5G pada smartphone.
5G dapat diposisikan sebagai Feature. Kemudian, fungsi yang dihasilkan dapat diterjemahkan menjadi Advantage, misalnya kemampuan menggunakan internet dengan lebih lancar.
Namun, komunikasi kepada pelanggan dapat dibuat lebih spesifik ketika masuk ke tahap Benefit.
Untuk segmen mahasiswa perempuan, misalnya, manfaat tersebut dapat dikomunikasikan sebagai:
“Nonton drama Korea favoritmu tanpa buffer.”
Sementara bagi mahasiswa yang gemar bermain gim, pesan yang digunakan bisa berbeda:
“Push rank sampai Mythic tanpa AFK.”
Contoh tersebut menunjukkan bahwa satu fitur dapat memiliki manfaat yang berbeda ketika dikomunikasikan kepada segmen pelanggan yang berbeda.
Marketing dalam Pengembangan Teknologi Produksi Ternak
Pendekatan yang sama dapat diterapkan pada bisnis berbasis teknologi produksi ternak.
Sebuah teknologi atau inovasi tidak cukup hanya dijelaskan berdasarkan spesifikasi teknisnya. Pelaku usaha perlu menerjemahkan teknologi tersebut menjadi manfaat yang relevan bagi target pengguna.
Misalnya, sebuah teknologi memiliki fitur tertentu untuk membantu proses produksi. Bagi peternak skala kecil, manfaat yang ingin ditonjolkan mungkin berkaitan dengan efisiensi biaya atau kemudahan operasional. Sementara bagi peternakan yang lebih besar, manfaatnya dapat dikaitkan dengan peningkatan produktivitas, efisiensi tenaga kerja, atau kemampuan monitoring.
Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa dapat mulai melihat bahwa kompetensi teknis dan marketing dapat saling melengkapi dalam membangun sebuah bisnis.
Kompetensi Wirausaha untuk Masa Depan
Di bagian akhir sesi, Khairul juga mengajak mahasiswa untuk terus mengembangkan kompetensi kewirausahaan.
Menurutnya, kemampuan memahami bisnis, pelanggan, marketing, dan branding tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa yang nantinya ingin menjadi pengusaha.
Kompetensi tersebut juga relevan bagi mereka yang memilih berkarier sebagai profesional.
Dunia kerja membutuhkan individu yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga mampu memahami persoalan, melihat peluang, berkomunikasi dengan pelanggan atau pengguna, serta menciptakan nilai dari kompetensi yang dimiliki.
Karena itu, mahasiswa Teknologi Produksi Ternak dapat mulai melihat bidangnya bukan hanya dari perspektif produksi, tetapi juga dari sisi bisnis, inovasi, pemasaran, dan pengembangan produk.
Menghubungkan Kampus dengan Dunia Praktik
Kehadiran praktisi dalam kelas memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat bagaimana konsep yang dipelajari dapat diterapkan dalam dunia usaha.
Melalui kolaborasi IMA Chapter Makassar dan Fakultas Vokasi Unhas, pengalaman praktisi marketing dapat dibawa langsung ke ruang kelas dan dipertemukan dengan perspektif akademik.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi ruang untuk memperluas cara pandang mengenai profesi dan peluang yang dapat dikembangkan setelah menyelesaikan pendidikan.
Pada akhirnya, pengembangan teknologi produksi ternak tidak hanya membutuhkan kemampuan menghasilkan produk atau meningkatkan proses produksi. Kemampuan memahami pasar, membangun brand, menerjemahkan fitur menjadi manfaat, serta memanfaatkan teknologi digital dan AI juga menjadi bagian penting dalam membangun usaha yang relevan dengan kebutuhan masa depan.







