Perkembangan industri kesehatan dan kecantikan membuat kebutuhan masyarakat terhadap layanan dental ikut berubah. Jika dahulu seseorang datang ke klinik gigi terutama karena memiliki masalah kesehatan gigi, kini keputusan tersebut juga dapat dipengaruhi oleh kebutuhan estetika, kecantikan, hingga pengalaman layanan yang ditawarkan.
Perubahan motif konsumen tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam sesi Praktisi Mengajar Fakultas Vokasi Universitas Hasanuddin (Unhas) yang menghadirkan Khairul Umam, S.T., M.T. sebagai dosen praktisi bagi mahasiswa Program Studi Terapi Gigi pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Dalam sesi tersebut, Khairul membawakan topik Strategi Pemasaran Digital: SEO, SEM, Media Sosial, dan Content Marketing sekaligus mengajak mahasiswa melihat peluang kewirausahaan yang dapat dikembangkan dari kompetensi mereka.
Kegiatan ini menjadi kali kedua Khairul hadir sebagai narasumber dalam kolaborasi Fakultas Vokasi Unhas dan IMA Chapter Makassar melalui program Praktisi Mengajar.
Melihat Peluang Wirausaha dari Kompetensi Terapi Gigi
Sebelum masuk pada pembahasan SEO dan SEM, Khairul mengajak mahasiswa terlebih dahulu melihat peluang kewirausahaan yang dapat dikembangkan dari bidang yang mereka pelajari.
Menurutnya, mahasiswa Terapi Gigi memiliki potensi untuk tidak hanya berorientasi menjadi tenaga profesional, tetapi juga dapat melihat peluang membangun usaha di bidang dental, kecantikan, estetika, dan layanan yang berkaitan dengan kesehatan gigi.
Perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu faktor yang membuka peluang tersebut.
Jika sebelumnya motif utama seseorang mengunjungi dental clinic adalah menyelesaikan masalah gigi, kini sebagian konsumen juga datang dengan motif estetika. Perawatan gigi dapat berkaitan dengan penampilan, kepercayaan diri, dan kebutuhan personal lainnya.
Karena itu, memahami motif pasar menjadi penting sebelum menentukan produk maupun strategi pemasaran.
Memahami Marketing Mix Sebelum Digital Marketing
Sebelum membawa mahasiswa pada pembahasan teknis SEO dan SEM, Khairul terlebih dahulu memperkenalkan konsep marketing mix.
Langkah ini penting agar mahasiswa tidak melihat digital marketing hanya sebagai aktivitas membuat konten atau menjalankan iklan.
Strategi pemasaran digital tetap perlu berangkat dari pemahaman terhadap produk atau layanan, harga, target pasar, serta bagaimana layanan tersebut dapat sampai dan memberikan nilai kepada pelanggan.
Dalam konteks bisnis dental, misalnya, strategi pemasaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter target pasar. Pesan yang digunakan untuk menawarkan perawatan kesehatan gigi tentu dapat berbeda dengan pesan untuk layanan estetika.
Dari pemahaman tersebut, digital marketing kemudian berfungsi sebagai sarana untuk menjangkau dan berkomunikasi dengan pasar secara lebih efektif.
SEO: Membuat Bisnis Lebih Mudah Ditemukan
Memasuki materi SEO, Khairul memperkenalkan bagaimana optimasi mesin pencari dapat digunakan untuk meningkatkan visibilitas sebuah bisnis.
SEO atau Search Engine Optimization tidak hanya terbatas pada optimasi website.
Mahasiswa diperkenalkan pada beberapa bentuk pengembangan SEO, termasuk optimasi website, Google Maps, media sosial, dan berbagai kanal digital lainnya.
Bagi bisnis dental, kemampuan untuk ditemukan ketika calon pelanggan mencari layanan tertentu menjadi sangat penting.
Ketika seseorang mencari informasi mengenai dental clinic, perawatan gigi, layanan estetika gigi, atau kebutuhan terkait lainnya, kehadiran bisnis di kanal digital dapat menjadi salah satu pintu awal terbentuknya interaksi dengan calon pelanggan.
Karena itu, SEO bukan hanya tentang mendapatkan posisi di mesin pencari, tetapi juga tentang membangun relevansi dan kehadiran brand ketika calon pelanggan sedang mencari solusi.
SEM dan Peran Iklan Berbayar
Selain SEO, Khairul juga memperkenalkan Search Engine Marketing (SEM).
Jika SEO berfokus pada upaya optimasi secara organik, SEM dapat digunakan melalui iklan berbayar di mesin pencari seperti Google untuk meningkatkan peluang bisnis tampil kepada audiens yang relevan.
Pembahasan kemudian diperluas pada berbagai platform iklan digital lainnya seperti Meta Ads dan TikTok Ads.
Setiap platform memiliki karakteristik audiens dan pendekatan komunikasi yang berbeda. Karena itu, pemilihan kanal perlu disesuaikan dengan target pasar dan tujuan kampanye.
Tujuannya bukan sekadar mendapatkan traffic sebanyak mungkin, tetapi mendapatkan traffic yang relevan dengan brand dan memiliki potensi untuk berkembang menjadi pelanggan.
Dari Traffic Menuju Potensi Penjualan
Salah satu perspektif yang ditekankan Khairul adalah bahwa aktivitas digital marketing seharusnya tidak berhenti pada angka views, likes, atau jumlah pengunjung.
Traffic memang penting, tetapi bisnis perlu melihat apakah traffic tersebut berasal dari orang yang tepat.
Dalam konteks dental clinic, misalnya, ribuan orang yang melihat sebuah konten belum tentu lebih bernilai dibandingkan sejumlah calon pelanggan yang benar-benar memiliki kebutuhan terhadap layanan yang ditawarkan.
Karena itu, strategi digital marketing perlu terhubung dengan pemahaman terhadap customer journey, relevansi konten, kebutuhan pasar, dan tujuan bisnis.
Dengan pendekatan tersebut, SEO, SEM, social media, dan content marketing dapat menjadi bagian dari ekosistem pemasaran yang saling mendukung.
Menjadi Future Dentalpreneur
Di akhir sesi, Khairul mendorong mahasiswa Terapi Gigi untuk terus mengembangkan kompetensi dan memupuk motivasi kewirausahaan.
Menurutnya, kompetensi profesional dan kemampuan berwirausaha dapat berjalan beriringan.
Mahasiswa tidak harus menunggu sampai lulus untuk mulai memahami dunia bisnis. Mereka dapat mulai mengamati kebutuhan pasar, mengenali perubahan perilaku konsumen, mempelajari bagaimana sebuah brand dibangun, hingga memahami cara teknologi digunakan untuk menjangkau pelanggan.
Dari sanalah peluang untuk menjadi future dentalpreneur dapat mulai dibangun.
Sebab, masa depan industri dental tidak hanya membutuhkan tenaga profesional yang kompeten secara teknis, tetapi juga individu yang mampu melihat peluang, memahami pasar, membangun layanan yang relevan, dan memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan pengalaman yang lebih baik bagi pelanggan.
Melalui kolaborasi Fakultas Vokasi Unhas dan IMA Chapter Makassar, kehadiran praktisi di ruang kelas menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan dinamika dunia usaha.
Bagi mahasiswa Terapi Gigi, sesi ini menjadi salah satu langkah untuk melihat bahwa kompetensi yang mereka miliki dapat dikembangkan lebih jauh—bukan hanya sebagai profesi, tetapi juga sebagai peluang untuk membangun bisnis dan menciptakan nilai di masa depan.











