Memiliki ide bisnis yang menarik belum tentu berarti sebuah produk akan diterima pasar. Sebelum sebuah produk dikembangkan dan dipasarkan secara lebih luas, pelaku usaha perlu memahami siapa penggunanya, apa yang mereka butuhkan, serta persoalan apa yang sebenarnya ingin mereka selesaikan.
Perspektif tersebut menjadi bagian penting dalam Bimbingan Teknis II Kewirausahaan Mahasiswa 2026 yang diselenggarakan oleh Manajemen Inovasi & Inkubasi Bisnis (MIIB) Universitas Muslim Indonesia (UMI) pada Rabu, 30 September 2026.
Mengangkat tema “Kenali Pelangganmu, Temukan Peluang Bisnismu: Mengenali Kebutuhan Pasar, Menentukan Calon Pelanggan”, kegiatan ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana peluang bisnis dapat ditemukan melalui pemahaman terhadap pelanggan dan kebutuhan pasar.
Dalam sesi tersebut, Khairul Umam, S.T., M.T. membahas penggunaan Design Thinking sebagai salah satu pendekatan untuk membantu mahasiswa membangun produk atau layanan yang lebih relevan dengan kebutuhan segmen pasar.
Jangan Mulai dari Produk, Mulai dari Kebutuhan
Salah satu pesan utama yang disampaikan Khairul adalah pentingnya mengubah cara berpikir ketika memulai sebuah bisnis.
Pelaku usaha sering kali memulai dengan pertanyaan, “Apa yang ingin saya jual?” Padahal, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah, “Apa yang sebenarnya dibutuhkan pelanggan?”
Perbedaan cara pandang tersebut dapat memengaruhi bagaimana sebuah ide bisnis dikembangkan.
Melalui Design Thinking, mahasiswa diajak untuk menempatkan pengguna sebagai bagian penting dalam proses pengembangan produk. Pemahaman terhadap pengalaman, kebutuhan, persoalan, dan perilaku pengguna menjadi dasar untuk menemukan solusi yang lebih relevan.
Dengan demikian, ide bisnis tidak hanya lahir dari asumsi pribadi, tetapi berkembang melalui proses memahami dan menguji kebutuhan pasar.
Riset Pasar Sebelum Produk Diluncurkan
Khairul juga menekankan pentingnya melakukan riset kebutuhan pasar sebelum produk dirilis kepada pasar yang lebih luas.
Menurutnya, sebuah produk perlu mendapatkan validasi dari calon penggunanya. Riset dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari observasi, wawancara, survei, hingga pengujian awal terhadap calon pelanggan.
Proses tersebut memungkinkan pelaku usaha mendapatkan informasi mengenai apakah masalah yang ingin diselesaikan memang dirasakan oleh pengguna, bagaimana mereka menyelesaikannya saat ini, dan apakah solusi yang ditawarkan memiliki relevansi.
Bagi mahasiswa yang sedang membangun bisnis, kebiasaan melakukan riset sejak awal dapat membantu mengurangi risiko mengembangkan produk berdasarkan asumsi yang belum teruji.
Menemukan Keunikan melalui UVP
Memahami kebutuhan pelanggan merupakan satu bagian dari proses. Tantangan berikutnya adalah bagaimana membuat produk memiliki alasan yang jelas untuk dipilih dibandingkan produk sejenis.
Dalam konteks tersebut, Khairul memperkenalkan pentingnya memahami Unique Value Proposition (UVP).
UVP membantu pelaku usaha menjelaskan nilai utama yang ditawarkan sebuah produk sekaligus menunjukkan apa yang membuatnya memiliki keunikan dibandingkan produk lain dalam industri yang sama.
Bagi mahasiswa, pemahaman mengenai UVP menjadi penting karena pasar tidak hanya berisi produk yang mereka tawarkan. Hampir selalu terdapat alternatif lain yang juga berusaha menyelesaikan persoalan pelanggan.
Karena itu, sebuah produk perlu memiliki nilai yang jelas dan relevan bagi segmen pelanggan yang dituju.
Melihat Kebutuhan yang Belum Diungkapkan
Pembahasan kemudian berkembang pada konsep latent needs atau kebutuhan yang belum secara langsung disampaikan oleh pengguna.
Tidak semua kebutuhan pelanggan dapat ditemukan hanya dengan bertanya, “Apa yang Anda butuhkan?”
Dalam banyak kasus, pengguna sendiri mungkin belum menyadari bahwa mereka memiliki kebutuhan tertentu sampai menemukan solusi yang tepat.
Karena itu, mahasiswa didorong untuk tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan pelanggan, tetapi juga mengamati perilaku, kebiasaan, kesulitan, dan pengalaman mereka.
Dari sana, peluang produk baru dapat muncul dari kebutuhan yang sebelumnya belum terlihat.
Pendekatan tersebut mendorong calon entrepreneur untuk lebih aktif membaca situasi dan mencari kemungkinan solusi, bukan sekadar menunggu pelanggan menyebutkan apa yang mereka inginkan.
Dari Ide Bisnis Menuju Produk yang Relevan
Bagi mahasiswa, proses membangun bisnis merupakan kesempatan untuk belajar secara langsung mengenai bagaimana sebuah ide berkembang menjadi produk yang memiliki nilai.
Melalui Bimbingan Teknis II Kewirausahaan Mahasiswa 2026, mahasiswa UMI tidak hanya diajak menghasilkan ide bisnis, tetapi juga memahami proses di balik pengembangan ide tersebut.
Mulai dari memahami pengguna, melakukan riset pasar, menemukan kebutuhan, mengembangkan solusi, hingga merumuskan UVP menjadi bagian penting dalam membangun produk yang lebih terarah.
Pada akhirnya, Design Thinking bukan hanya tentang menciptakan produk yang terlihat menarik, tetapi tentang menemukan persoalan yang tepat dan menghadirkan solusi yang benar-benar memiliki nilai bagi pengguna.
Bagi calon entrepreneur, cara berpikir tersebut dapat menjadi bekal penting untuk melangkah dari sekadar memiliki business idea menuju kemampuan membangun bisnis yang relevan dengan kebutuhan pasar.












