Khairul Umam Bahas Design Thinking di Sekolah Beta Makassar MCH

Bahas Cara Membangun Produk yang Benar-Benar Dibutuhkan Pasar di Kelas Beta Hustler Makassar

Memiliki ide bisnis yang menarik belum tentu cukup untuk membangun startup yang berkelanjutan. Sebuah produk bisa saja terlihat inovatif, tetapi tetap sulit berkembang apabila masalah yang ingin diselesaikan tidak benar-benar penting bagi calon pelanggan.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan utama dalam Kelas Beta Hustler Makassar bertajuk “How to Build What the Market Actually Needs” yang menghadirkan Khairul Umam, S.T., M.T., selaku General Manager Inkubator Bisnis Kota Makassar. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 10 Oktober 2026, pukul 15.00–17.00 WITA di Makassar Creative Hub Nusantara.

Dalam sesi tersebut, Khairul mengajak peserta untuk melihat pengembangan produk dari sudut pandang kebutuhan pasar. Menurutnya, proses membangun bisnis tidak seharusnya berhenti pada munculnya ide atau pembuatan produk. Startup juga perlu memastikan bahwa solusi yang ditawarkan relevan dengan persoalan pelanggan dan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bisnis yang berkelanjutan.

Customer Interview dan Observasi untuk Menemukan Kebutuhan Pasar

Salah satu hal yang ditekankan Khairul adalah pentingnya memahami pelanggan secara langsung. Proses ini dapat dilakukan melalui wawancara pelanggan atau customer interview untuk memperoleh conscious feedback, yaitu masukan mengenai kebutuhan, pengalaman, kendala, dan harapan yang dapat disampaikan secara sadar oleh pelanggan.

Namun, memahami pelanggan tidak cukup hanya dengan menanyakan apa yang mereka inginkan. Startup juga perlu melakukan observasi terhadap perilaku, kebiasaan, dan kesulitan yang mereka alami dalam aktivitas sehari-hari.

Pendekatan tersebut membantu founder menemukan latent needs, yakni kebutuhan yang belum sepenuhnya disadari, belum mampu diungkapkan secara jelas, atau belum terpenuhi oleh solusi yang tersedia saat ini.

Dengan menggabungkan wawancara dan observasi, founder dapat memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai masalah pelanggan. Temuan ini kemudian menjadi dasar untuk merancang produk yang tidak hanya menarik secara konsep, tetapi juga relevan dalam penggunaan nyata.

Memahami Product Life Cycle pada Produk Digital

Khairul juga membahas product life cycle atau siklus hidup produk, khususnya dalam konteks produk digital. Pemahaman ini penting karena produk perlu terus dikembangkan seiring perubahan kebutuhan pelanggan, perilaku pengguna, dan kondisi pasar.

Produk digital tidak cukup hanya diluncurkan lalu dibiarkan berjalan. Founder perlu mengevaluasi bagaimana pengguna mengenal produk, mencoba fitur yang tersedia, merasakan manfaatnya, hingga memutuskan untuk terus menggunakan atau membayar layanan tersebut.

Setiap tahap membutuhkan pendekatan yang berbeda. Pada tahap awal, misalnya, startup perlu menguji asumsi dan memperoleh masukan dari pengguna. Setelah itu, pengembangan produk perlu diarahkan berdasarkan temuan yang diperoleh, bukan semata-mata berdasarkan preferensi internal tim.

Melalui pendekatan ini, proses inovasi menjadi lebih terarah. Startup dapat menentukan fitur yang benar-benar dibutuhkan, menghindari pengembangan yang tidak prioritas, serta menggunakan sumber daya secara lebih efektif.

Product-Market Fit dan Pentingnya Monetisasi Startup

Pembahasan kemudian mengarah pada pentingnya menemukan product-market fit, yaitu kondisi ketika produk memiliki kesesuaian yang kuat dengan kebutuhan pasar yang dituju.

Bagi Khairul, startup perlu berupaya menemukan kesesuaian tersebut sedini mungkin. Validasi yang dilakukan secara berkelanjutan membantu founder memahami apakah produk benar-benar digunakan, memberikan manfaat, dan memiliki peluang untuk menghasilkan pendapatan.

Hal ini menjadi semakin relevan karena startup tidak hanya perlu memikirkan pertumbuhan pengguna atau growth. Kemampuan menghasilkan pendapatan dan menjaga arus kas atau cash flow juga menjadi perhatian penting agar operasional bisnis dapat terus berjalan.

Karena itu, founder perlu mulai memikirkan monetisasi sejak proses pengembangan bisnis. Model pendapatan, kesediaan pelanggan untuk membayar, serta biaya yang dibutuhkan untuk melayani pasar perlu diuji seiring proses validasi produk.

Dengan demikian, pengembangan startup tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah pengguna, tetapi juga pada pembentukan model bisnis yang memiliki dasar ekonomi yang jelas.

Membangun Startup yang Berdampak dan Berkelanjutan

Selain aspek produk dan bisnis, Khairul juga memberikan motivasi kepada peserta untuk membangun startup yang memiliki dampak nyata. Menurutnya, peluang bisnis dapat dikembangkan dari persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat, selama founder mampu memahami masalah tersebut dan menawarkan solusi yang relevan.

Semangat membangun startup perlu diiringi dengan kemauan untuk terus belajar, terbuka terhadap masukan, serta bersedia menyesuaikan produk berdasarkan temuan di lapangan. Ide awal tidak harus selalu dipertahankan apabila hasil validasi menunjukkan adanya kebutuhan yang berbeda.

Pendekatan ini menempatkan inovasi sebagai proses berkelanjutan. Founder tidak hanya dituntut untuk menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga memastikan bahwa inovasi tersebut memberikan manfaat bagi pengguna dan dapat dikembangkan menjadi bisnis yang sehat.

Melalui Kelas Beta Hustler Makassar, peserta mendapatkan perspektif bahwa membangun startup bukan sekadar tentang memiliki ide yang menarik. Proses tersebut membutuhkan pemahaman pelanggan, pengujian asumsi, pengembangan produk yang terarah, serta kemampuan menghubungkan nilai yang diberikan kepada pelanggan dengan keberlanjutan bisnis.

Pada akhirnya, startup yang kuat bukan hanya mampu menarik perhatian pasar, melainkan juga mampu menjawab kebutuhan nyata, membangun model pendapatan yang masuk akal, dan menghadirkan dampak yang berarti.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shopping Cart

Hey Yo! Don't know why you here, but nice to see ya!

X
Scroll to Top