Khairul Umam menjadi Narasumber Kegiatan AI Accelerator dengan Peserta 500 Orang

AI Accelerator Dorong Mahasiswa Lebih Produktif dan Siap Menghadapi Dunia Kerja

AI Semakin Dekat dengan Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja

Artificial Intelligence (AI) semakin menjadi bagian dari berbagai aktivitas, mulai dari pendidikan, pekerjaan, penelitian, kewirausahaan hingga pelayanan publik. Perkembangan tersebut membuat kemampuan untuk memahami dan menggunakan AI secara tepat menjadi salah satu keterampilan yang semakin relevan bagi mahasiswa dan pencari kerja.

Hal tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam kegiatan AI Accelerator: Optimalisasi AI untuk Kesiapan Kerja yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada Jumat, 18 September 2026.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kolaka, Bapak Ilham, S.TP., M.Si. Kehadiran pemerintah daerah dalam pembukaan kegiatan turut menunjukkan pentingnya penguatan keterampilan digital dan kesiapan kerja di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi.

Kegiatan yang diikuti lebih dari 500 peserta ini menghadirkan dua pemateri dengan perspektif yang saling melengkapi, yaitu Khairul Umam, S.T., M.T., CEO Digisaurus.id sekaligus Dosen Universitas Muslim Indonesia, serta Ildha Mawarni Nurhamuddin, S.M., M.M., Senior Human Resources Business Partner (HRBP) PT Vale Indonesia.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Ruang Kolaborasi Perempuan sebagai official partner Google.org dalam implementasi program AI Accelerator. Jalannya kegiatan dipandu oleh Ilmi sebagai MC.

Memahami AI sebagai Alat untuk Meningkatkan Produktivitas

Dalam sesi yang dibawakan Khairul Umam, pembahasan tidak hanya berhenti pada pengenalan mengenai Artificial Intelligence, tetapi diarahkan pada bagaimana mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk mendukung aktivitas belajar, penelitian, serta pengembangan kompetensi.

Menurut Khairul, AI sebaiknya dipahami sebagai alat yang dapat membantu manusia bekerja dengan lebih efektif. Karena itu, mahasiswa perlu memahami bagaimana teknologi tersebut dapat dimasukkan ke dalam aktivitas sehari-hari tanpa kehilangan peran manusia dalam berpikir, menganalisis, memvalidasi, dan mengambil keputusan.

Salah satu bagian yang dibahas adalah pemanfaatan berbagai aplikasi dalam ekosistem Google untuk mendukung produktivitas mahasiswa.

Khairul memberikan contoh workflow sederhana dalam melakukan riset. Proses dapat dimulai dengan mencari referensi ilmiah melalui Google Scholar, kemudian memanfaatkan kemampuan AI untuk membantu menemukan dan menyaring literatur yang relevan dengan kebutuhan penelitian.

Jurnal yang telah dikumpulkan selanjutnya dapat digunakan sebagai sumber pada NotebookLM. Dari sumber tersebut, mahasiswa dapat mengeksplorasi berbagai informasi, menemukan pola, melihat keterkaitan antarkonsep maupun variabel, serta memahami materi dalam format yang lebih beragam.

Informasi dari sumber penelitian juga dapat diolah menjadi berbagai bentuk materi, seperti slide, audio, infografis, maupun laporan, sehingga proses belajar dan memahami referensi dapat menjadi lebih fleksibel.

Bagi mahasiswa, workflow tersebut menunjukkan bahwa AI tidak hanya digunakan untuk menghasilkan jawaban secara instan. AI dapat ditempatkan sebagai bagian dari proses belajar dan riset, sementara mahasiswa tetap menjadi pihak yang menentukan pertanyaan, mengevaluasi sumber, memeriksa informasi, dan mengambil kesimpulan.

Menjadi Pembelajar Tanpa Henti

Di luar aspek teknis penggunaan AI, Khairul juga menekankan pentingnya membangun pola pikir sebagai pembelajar tanpa henti.

Perkembangan teknologi membuat keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja terus berubah. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan.

Mahasiswa perlu terus belajar, mencoba hal baru, mengembangkan proyek, dan mengevaluasi kemampuan dirinya.

Semangat tersebut menjadi penting agar mahasiswa dapat terus berkembang dan mempersiapkan diri menjadi versi terbaik dari dirinya.

Dalam konteks AI, kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, serta kemauan untuk terus belajar.

Perspektif HR: Ijazah Saja Tidak Cukup

Perspektif berbeda disampaikan oleh Ildha Mawarni Nurhamuddin selaku Senior HRBP PT Vale Indonesia. Dari sisi Human Resources, peserta diajak memahami bagaimana perusahaan melihat calon tenaga kerja dalam proses rekrutmen.

Ildha menekankan bahwa setiap lulusan perlu memiliki pembeda. Ijazah merupakan bagian dari perjalanan pendidikan, tetapi belum cukup untuk menunjukkan keseluruhan kemampuan seseorang kepada recruiter.

Karena itu, mahasiswa perlu mulai membangun kompetensi yang dapat menunjukkan nilai dirinya sebelum memasuki dunia kerja.

Salah satu kerangka yang ditekankan adalah pengembangan tiga aspek utama, yaitu Knowledge, Skill, dan Attitude.

Knowledge berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki. Skill berkaitan dengan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi nyata. Sementara itu, attitude berkaitan dengan sikap, karakter, dan cara seseorang membawa dirinya dalam lingkungan profesional.

Ketiga aspek tersebut perlu dikembangkan secara bersamaan agar mahasiswa tidak hanya memiliki latar belakang pendidikan, tetapi juga memiliki kemampuan dan karakter yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

AI dan Kesiapan Karier Berjalan Beriringan

Pembahasan dalam AI Accelerator memperlihatkan bahwa kesiapan kerja tidak hanya berbicara mengenai kemampuan menggunakan teknologi terbaru.

AI dapat membantu mahasiswa menjadi lebih produktif dalam mencari informasi, belajar, melakukan riset, menyusun pekerjaan, dan mengeksplorasi berbagai peluang. Namun, teknologi tersebut tetap membutuhkan kemampuan manusia untuk menentukan tujuan, memberikan konteks, melakukan verifikasi, dan menggunakan hasilnya secara bertanggung jawab.

Di sisi lain, perspektif HR menunjukkan bahwa kemampuan teknologi perlu dilengkapi dengan pengetahuan, keterampilan praktis, serta sikap profesional.

Dengan demikian, pemanfaatan AI dan pengembangan kompetensi diri seharusnya berjalan secara bersamaan.

Bagi mahasiswa dan pencari kerja, tantangannya bukan sekadar mengetahui bahwa AI tersedia, tetapi memahami bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas proses belajar dan pekerjaan tanpa menggantikan proses berpikir itu sendiri.

Mempersiapkan Generasi yang Adaptif terhadap Perubahan

Dengan jumlah peserta yang mencapai lebih dari 500 orang, AI Accelerator menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan perspektif teknologi, kebutuhan industri, dan perhatian terhadap kesiapan tenaga kerja.

Pembukaan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kolaka juga menempatkan isu kesiapan kerja dalam konteks yang lebih luas, bahwa pengembangan kompetensi tenaga kerja perlu terus mengikuti perubahan teknologi dan kebutuhan industri.

Sementara itu, kehadiran praktisi AI dan HR memberikan peserta gambaran dari dua sisi: bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan individu dan bagaimana kompetensi tersebut dapat dipersiapkan untuk menghadapi proses masuk ke dunia kerja.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses terhadap keterampilan AI yang praktis, relevan, aman, etis, dan bertanggung jawab, khususnya bagi mahasiswa, pencari kerja, serta kelompok yang sedang mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja.

Pada akhirnya, teknologi akan terus berkembang. Aplikasi dan tools yang digunakan hari ini mungkin akan kembali berubah dalam beberapa tahun ke depan.

Karena itu, keterampilan yang penting untuk dibangun bukan hanya kemampuan menggunakan satu teknologi tertentu, tetapi kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi.

AI dapat menjadi salah satu alat untuk membantu proses tersebut. Namun, dorongan untuk terus berkembang tetap berasal dari individu yang menggunakannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shopping Cart

Hey Yo! Don't know why you here, but nice to see ya!

X
Scroll to Top