Khairul dan Odhi di Marketing Talks Makassar Vol. 1

7 Insight dari Marketing Talks Vol.1: Catatan Khairul Umam tentang AI, Branding, FOMO, dan Masa Depan Marketing

Marketing Hari Ini Tidak Lagi Sekadar Promosi

Marketing Talks Vol.1 yang diselenggarakan di Makassar mempertemukan para pelaku bisnis, marketer, dan UMKM untuk mendiskusikan perubahan dunia pemasaran yang bergerak sangat cepat. Pada sesi podcast bersama Menang Marketing Lab yang dipandu oleh Odhi Fahrurazi, General Manager Inkubator Bisnis Kota Makassar, Khairul Umam, membagikan berbagai pandangannya mengenai perkembangan marketing modern, Artificial Intelligence (AI), personal branding, hingga bagaimana UMKM dapat tetap relevan di tengah perubahan perilaku konsumen.

Khairul dan Odhi di Marketing Talks Makassar Vol. 1

Menurut Khairul, tantangan terbesar saat ini bukan lagi soal mengikuti perkembangan teknologi, tetapi memahami perubahan perilaku manusia yang turut berubah karena teknologi dan menjadi dasar dari seluruh aktivitas pemasaran.

1. Marketing Merupakan Psychological Experimentation

Menurut Khairul, banyak orang masih melihat marketing hanya sebagai cara menyampaikan pesan kepada calon pelanggan. Padahal hari ini kondisinya jauh berbeda.

“Marketing hari ini lebih dari sekadar communication method, melainkan sebuah psychological experimentation. And the devil is in the details.”

Setiap interaksi digital sebenarnya meninggalkan pola. Bagaimana seseorang berhenti ketika scrolling. Konten mana yang membuat mereka membaca lebih lama. Jam berapa mereka membuka aplikasi. Komentar apa yang mereka berikan. Hingga bagaimana mereka bereaksi terhadap komentar orang lain. Semuanya adalah data perilaku.

Menurutnya, marketer masa kini harus belajar membaca pola-pola tersebut, bukan hanya membuat desain yang menarik atau copywriting yang bagus.

2. AI Akan Menjadi Standar Baru, Bukan Sekadar Tren yang akan berlalu

Ketika berbicara mengenai Artificial Intelligence, Khairul tidak melihat AI sebagai alat untuk menggantikan manusia. Sebaliknya, AI adalah alat untuk membantu manusia mengambil keputusan yang lebih baik. Ia menjelaskan bahwa hari ini AI sudah mulai terintegrasi dengan berbagai sistem bisnis. Perilaku manusia yang dibahas di poin pertama, semuanya memiliki pola.

“Sekarang coba tebak siapa yang paling jago membaca pola dari seluruh perilaku customer tadi? Yessss. AI. “

Bahkan menurutnya, Agentic AI mulai memungkinkan bisnis membangun berbagai trigger otomatis yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh tim besar. Tracking, Replying, Note Taking, Recommending, semuanya sudah bisa AI lakukan. Karena itu, literasi AI bukan lagi pilihan.

“Literasi digital dan AI bagi UMKM sudah menjadi hal mutlak untuk dikuasai. Slowing down and you’ll left behind, the race is unbelievably fast”

3. Jangan Terlalu FOMO Mengejar Konten Viral

Fenomena yang paling sering ia temukan selama mendampingi lebih dari 4000 UMKM yang tergabung dalam Inkubator Bisnis Kota Makassar adalah keinginan untuk selalu mengikuti konten yang sedang viral. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Namun Khairul mengingatkan bahwa bisnis dibangun bukan hanya untuk mendapatkan penjualan minggu ini. Tetapi juga agar tetap dikenal puluhan bahkan ratusan tahun mendatang.

“Keep doing your thing. Buat konten yang lagi viral is a good thing, tapi jangan sampai kehilangan identitas.”

Menurutnya, setiap brand harus memiliki identitas yang jelas. Karena pada akhirnya pelanggan akan mengingat sebuah karakter. Bukan sekadar mengikuti tren. Ia kemudian menambahkan,

“Selain mengejar penjualan cepat, kita juga harus memikirkan bagaimana agar bisnis kita bisa dikenal 100 tahun bahkan lebih.”

Untuk itu, ia menyarankan setiap bisnis menjaga tiga hal:

  • nilai (value) yang jelas,
  • atribut visual yang konsisten,
  • serta brand voice yang menjadi mantra.

4. Personal Branding Itu Pilihan, Bukan Kewajiban

Salah satu pembahasan menarik adalah mengenai personal branding. Menurut Khairul, banyak bisnis berhasil tumbuh karena figur pendirinya sangat dikenal. Namun ada pula perusahaan besar yang justru sengaja tidak menonjolkan siapa pemiliknya. Keduanya sama-sama benar.

“Tidak ada yang salah. Keduanya sah-sah saja dilakukan.”

Namun masing-masing memiliki konsekuensi. Jika bisnis bergantung pada personal branding, maka figur yang diasosiasikan dengan brand harus menjadi ahli atau expert di industry tersebut, Ia harus aktif belajar, ikut sertifikasi, dan berkontribusi aktif dalam diskusi-diskusi dibidang tersebut. Dan ketika figur tersebut bermasalah terutama dari segi integritas, dampaknya akan langsung dirasakan bisnis.

Sebaliknya,

Jika tidak memanfaatkan personal branding, proses memperoleh pelanggan baru biasanya berjalan lebih lambat. Anda mungkin akan lebih sulit untuk mengakuisisi customer baru dari social circle anda. Atau anda mungkin membutuhkan lebih banyak resources untuk membangun raport business.

Khairul menutup pembahasan ini dengan kalimat sederhana.

“You choose.”

Karena pada akhirnya setiap strategi memiliki trade-off masing-masing.

5. Community Engagement Adalah Masa Depan Marketing

Menurut Khairul, hubungan antara bisnis dan pelanggan juga telah berubah. Ia menjelaskan evolusi marketing dari sudut pandang yang menarik.

Pada Marketing 1.0,

produsen berada di atas pelanggan karena produk masih langka.

Pada Marketing 2.0,

pelanggan justru menjadi pihak yang dominan karena persaingan bisnis industry semakin ketat. Sedangkan hari ini,

Marketing 3.0 membuat keduanya berdiri sejajar.

“Seller maupun customer sama-sama punya passion terhadap suatu industri. Sama-sama punya kontribusi. Sama-sama punya pain and gain yang bisa jadi pemantik diskusi. Sama-sama punya value yang bisa mereka bagikan.”

Karena itu, brand tidak lagi harus selalu tampil formal. Brand harus menjadi teman diskusi. Ia memberi contoh bagaimana berbagai brand besar mulai membangun komunikasi yang lebih hangat di media sosial, mulai dari KFC, Partai Gerindra, Kementerian ESDM, Keju Mozarella berbagai brand lainnya, yang kini berani lebih relevan dengan gaya komunikasi ala netizen yang lagi rebahan di kosan.

“Bahkan mungkin sekarang mereka tidak lagi kita sebut audiens, melainkan fellow contributor terhadap satu hobi yang sama.”

6. Branding dan Cashflow Harus Berjalan Bersama

Khairul juga mengingatkan bahwa banyak bisnis terlalu fokus pada angka-angka yang terlihat besar dan Glorious. Padahal belum tentu menghasilkan uang.

Menurutnya, marketing harus memiliki dua tujuan yang berjalan beriringan.

  • Pertama, menghasilkan cashflow.
  • Kedua, membangun kepercayaan jangka panjang melalui branding.

Karena tanpa cashflow, bisnis tidak akan bertahan. Namun tanpa branding, bisnis akan terus mengeluarkan biaya mahal untuk mendapatkan pelanggan baru.

“Memang tidak ada yang abadi di dunia ini, tapi kalau kita bisa buat brand yang tetap diingat 100 tahun kemudian, kenapa kita harus settle for less”

7. Bangun Bisnis yang Relevan, Bukan Sekadar Ramai

Sebagai penutup, Khairul mengajak pelaku usaha agar tidak terlalu sibuk mengejar perhatian publik. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah menjadi relevan. Brand yang relevan akan selalu menemukan konsumennya, meskipun tidak selalu viral.

“Bahkan ada juga tuh bisnis yang fundamentalnya tidak kuat, akhirnya keteteran karena viral. Tiba-tiba ramai, dapur amburadul. Tim Ngos-ngosan. Selalu ingat, Prepare your growth”

Pada akhirnya, marketing bukan tentang siapa yang paling keras berbicara. Tetapi siapa yang paling mampu memahami manusia.

Kolaborasi untuk Meningkatkan Literasi Marketing

Marketing Talks Vol.1 menjadi ruang diskusi yang mempertemukan pelaku UMKM, profesional marketing, hingga pemilik bisnis di Kota Makassar. Melalui forum ini, peserta memperoleh perspektif baru mengenai pentingnya memahami perubahan perilaku konsumen, memanfaatkan Artificial Intelligence secara tepat, membangun identitas merek yang konsisten, serta menciptakan hubungan yang lebih bermakna dengan pelanggan.

Diskusi ini juga menunjukkan bahwa transformasi marketing tidak hanya dipengaruhi oleh teknologi, tetapi juga oleh cara sebuah bisnis memahami manusia, membangun kepercayaan, dan menciptakan nilai yang relevan bagi konsumennya. Dengan semakin banyak ruang berbagi seperti ini, diharapkan ekosistem bisnis dan UMKM di Makassar dapat terus berkembang dan mampu beradaptasi menghadapi dinamika pemasaran di era digital.

#erulgotthingstoshare

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shopping Cart

Hey Yo! Don't know why you here, but nice to see ya!

X
Scroll to Top