Membangun usaha tidak hanya tentang menciptakan sebuah produk. Di tengah persaingan yang semakin beragam, pengusaha juga perlu memahami mengapa produknya dibutuhkan, siapa yang akan membelinya, dan alasan apa yang membuat konsumen memilih produk tersebut dibandingkan alternatif lainnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Entrepreneur Day yang diselenggarakan oleh Bidang Kewirausahaan dan Jaringan Lembaga Kreativitas Ilmiah Mahasiswa Penelitian dan Penalaran (LKIMPENA) Universitas Muhammadiyah Makassar.
Kegiatan dengan tema “Build Your Own Brand: Pelatihan Pembuatan Produk dan Penyusunan Business Plan untuk Pengusaha Muda” tersebut berlangsung pada Kamis, 17 September 2026, di Rumah Pena Alauddin.
Dalam kegiatan ini, Khairul Umam, S.T., M.T., General Manager Inkubator Bisnis Kota Makassar, hadir sebagai narasumber tunggal dan berbagi pengalaman mengenai pengembangan usaha mahasiswa berbasis inovasi.
Produk Harus Hadir Membawa Solusi
Dalam membangun sebuah usaha, Khairul mengajak peserta untuk tidak berhenti pada pertanyaan tentang “apa yang ingin dijual?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah “masalah apa yang ingin diselesaikan?”
Menurutnya, sebuah produk akan memiliki peluang lebih besar ketika mampu menjawab kebutuhan atau persoalan yang benar-benar dirasakan oleh target pasar.
Dari sinilah pentingnya memahami Unique Selling Proposition (USP). Produk perlu memiliki sesuatu yang membuatnya berbeda sekaligus relevan bagi konsumen.
Perbedaan tersebut tidak selalu harus berupa teknologi yang rumit. Bisa berupa cara penyajian, pengalaman pelanggan, desain, kualitas, kemudahan, pelayanan, maupun nilai tertentu yang tidak ditawarkan oleh kompetitor dengan cara yang sama.
USP: Bukan Sekadar Berbeda, tetapi Berarti
Khairul menjelaskan bahwa menjadi berbeda saja belum cukup.
Sebuah keunikan harus memiliki relevansi dengan kebutuhan pasar. Jika sebuah produk memiliki keunikan tetapi tidak memberikan nilai bagi konsumen, keunikan tersebut belum tentu menjadi alasan seseorang untuk membeli.
Karena itu, peserta diajak untuk melihat produk dari sudut pandang konsumen.
Apa yang mereka butuhkan? Apa yang membuat mereka tertarik? Apa masalah mereka? Dan mengapa mereka harus memilih produk kita?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu mahasiswa menemukan proposisi nilai yang lebih kuat sebelum masuk lebih jauh ke dalam penyusunan business plan.
Membangun Nilai melalui Emotional Branding
Selain berbicara mengenai fungsi produk, Khairul juga memperkenalkan konsep emotional branding.
Brand yang kuat tidak selalu menjual produk semata. Dalam banyak kasus, brand juga menjual identitas, pengalaman, komunitas, atau emosi tertentu yang ingin dirasakan oleh konsumennya.
Salah satu contoh yang dibahas adalah bagaimana Supreme membangun identitas brand yang sangat kuat melalui penggunaan logo dan berbagai produk kolaborasi. Identitas tersebut kemudian menjadi bagian dari nilai yang melekat pada produk dan dapat membuat sebuah produk memiliki persepsi eksklusivitas, termasuk ketika diproduksi secara terbatas.
Contoh tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa brand dapat menjadi bagian dari value sebuah produk.
Dengan identitas yang kuat, sebuah produk tidak lagi hanya dipandang berdasarkan fungsi materialnya, tetapi juga berdasarkan makna dan persepsi yang melekat pada brand tersebut.
Memahami FAB untuk Menentukan Value Proposition
Dalam menjelaskan bagaimana sebuah produk dapat menawarkan nilai, Khairul juga membahas konsep FAB: Features, Advantages, dan Benefits.
Features menjelaskan fitur atau karakteristik yang dimiliki produk.
Advantages menjelaskan keunggulan yang muncul dari fitur tersebut dibandingkan alternatif yang tersedia.
Sementara Benefits menjawab pertanyaan yang lebih dekat dengan konsumen: manfaat apa yang benar-benar mereka dapatkan?
Kerangka sederhana tersebut dapat membantu pengusaha mengubah cara menjelaskan produknya.
Alih-alih hanya mengatakan bahwa sebuah produk memiliki fitur tertentu, pengusaha perlu mampu menjelaskan apa keuntungannya dan bagaimana fitur tersebut memberikan manfaat bagi konsumen.
Dengan demikian, FAB dapat menjadi salah satu alat untuk membantu mahasiswa menyusun value proposition yang lebih jelas.
Memulai dari Segmentasi dan Persona
Dalam pengembangan usaha, Khairul juga mengingatkan peserta agar tidak mencoba menjual produk kepada semua orang.
Mahasiswa perlu mulai memahami segmentasi pasar dan menentukan siapa target konsumen yang ingin dilayani.
Setelah segmentasi ditentukan, pengusaha dapat mengembangkan customer persona untuk mendapatkan gambaran yang lebih konkret mengenai calon pelanggan.
Mulai dari usia, aktivitas, kebutuhan, kebiasaan, kemampuan membeli, masalah yang dihadapi, hingga bagaimana mereka mengambil keputusan pembelian.
Semakin baik pemahaman terhadap konsumen, semakin mudah pula pengusaha menentukan produk, komunikasi, harga, maupun channel pemasaran yang sesuai.
Maksimalkan Berbagai Channel
Pengembangan usaha juga tidak berhenti setelah produk selesai dibuat.
Khairul mendorong peserta untuk memaksimalkan berbagai channel yang tersedia untuk memperkenalkan dan menjual produk.
Media sosial, marketplace, komunitas, jaringan kampus, event, kolaborasi, hingga berbagai kanal digital lainnya dapat menjadi bagian dari strategi pemasaran.
Namun, setiap channel perlu disesuaikan dengan karakter target pasar. Tidak semua channel harus digunakan sekaligus.
Yang lebih penting adalah memahami di mana konsumen berada dan bagaimana cara terbaik menjangkau mereka.
Terus Belajar dan Bangun Support System
Bagi mahasiswa yang mulai merintis usaha, perjalanan membangun bisnis tidak selalu mudah.
Karena itu, Khairul menekankan pentingnya terus belajar sekaligus memiliki support system dalam mengembangkan usaha.
Mahasiswa dapat belajar melalui komunitas, mentor, pelaku usaha lain, perguruan tinggi, maupun lembaga inkubator.
Salah satunya adalah Inkubator Bisnis Kota Makassar, yang dapat menjadi salah satu ruang bagi pelaku usaha untuk mendapatkan pendampingan, pengembangan kapasitas, akses jejaring, serta berbagai peluang pengembangan usaha.
Dengan adanya support system, mahasiswa tidak harus menghadapi seluruh proses membangun usaha seorang diri.
Dari Ide Menjadi Usaha yang Bernilai
Entrepreneur Day LKIMPENA menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat kewirausahaan dari perspektif yang lebih praktis.
Membangun usaha tidak hanya dimulai dari ide yang menarik, tetapi juga dari kemampuan memahami masalah, mengenali pasar, menciptakan solusi, membangun nilai, dan mengomunikasikannya melalui brand.
Pada akhirnya, “Build Your Own Brand” bukan hanya tentang membuat nama atau logo untuk sebuah produk.
Lebih jauh, membangun brand berarti membangun identitas, nilai, pengalaman, dan alasan bagi konsumen untuk memilih sebuah produk.
Bagi mahasiswa yang sedang mulai merintis usaha, proses tersebut dapat menjadi perjalanan belajar yang panjang. Tidak semua ide langsung berhasil dan tidak semua produk langsung diterima pasar.
Namun, seperti pesan yang menjadi pembuka kegiatan, kegagalan dapat menjadi kesempatan untuk memulai kembali dengan lebih cerdas—dengan pemahaman pasar yang lebih baik, produk yang lebih relevan, dan strategi bisnis yang terus berkembang.








